Langsung ke konten utama

Kenapa Kids Zaman Now Gagal Berfilsafat?


Oleh : Mohammad Makhlad
Ditengah hiruk pikuk kehidupan bangku perkuliahan saya sering menemukan banyak mahasiswa/i yang sukar memahami pelajaran filsafat dan gagal dalam berfilsafat, banyak juga diantara mereka yang menganggap bahwa filsafat itu tak ada gunanya, bahkan ada yang menganggap jika belajar filsafat dapat membuat orang sesat, apakah benar demikian? padahal menurut Ibnu Rusyd “Filsafat itu tak lebih dari sekedar merenungi fenomena-fenome
na alam, beserta gejala-gejala pembentukannya”.
 Reza A.A Wattimena (Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang) juga mengatakan bahwa Filsafat itu tidak diperlukan, ketika kita menikmati hidup dalam irasionalitas. Artinya, kita tidak perlu belajar filsafat, jika kita tidak perlu memahami rantai sebab akibat yang membentuk hidup kita sekarang ini. Ini juga berarti, kita hidup dalam kebodohan. Kita melempar kesalahan ke orang lain atau justru kepada Tuhan, dan lupa berkaca untuk melihat ke dalam diri kita sendiri.
As. Laksana dalam tulisanya “Rombongan Pertama Ke Neraka” mengutip bahwa  Ayatollah Khomeini, dengan otoritasnya sebagai pemimpin spiritual bangsa Iran, pernah menyampaikan bahwa orang-orang bodoh adalah rombongan pertama yang akan masuk neraka karena beberapa alasan. Saya ingat empat hal. Pertama, orang bodoh bisa menyakiti orang lain tanpa menyadari efek dari perbuatannya. Kedua, ketika berbuat salah ia tidak tahu di mana kesalahannya dan tidak mampu memperbaiki diri sendiri karena kebodohannya. Ketiga, jika diberi saran yang baik, ia membantah. Keempat, mudah dikendalikan orang lain untuk membuat kerusakan[1].
Lebih lanjut saya akan memaparkan pendapat Ibnu Rusyd seorang ilmuwan sekaligus filsuf muslim abad ke 12 dalam kitabnya “Fashlul Maqol[2]yang di tahqiq oleh Dr. Muhammad ‘Abid al-Jabiry menjelaskan bahwa penyebab seseorang gagal dalam berfilsafat diantaranya adalah: Naqsu Fitrotihi (kurang cerdas), Su’it Tartibi Nadruhu Fiha (gagal fokus dalam mempelajari filsafat), atau Gholabatis Syahwatihi ‘Alaihi (tergesa-gesa dalam belajar filsafat/Sok Tahu padahal belum faham secara menyeluruh), Lam Yajid Mu’alliman Yursyidu Ila Fahmi Ma Fiha (tidak menemukan seorang guru yang dapat memberikan penjelasan terkait ilmu filsafat tersebut), jadi seorang yang belajar filsafat bisa saja gagal memahami filsafat dikarenakan salah satu sebab diatas atau lebih, bisa juga kesemua sebab itu berkumpul menjadi satu. Udah ngak cerdas, gagal fokus, terlalu buru-buru dalam belajar filsafat, tidak ada guru yang membimbing.
Oleh karena itu jika ingin menjadi seorang filsuf atau orang yang mengerti filsafat maka dibutuhkan kejernihan hati dan fikiran yang fokus, agar terbebas dari prasangka-prasangka atau praduga-praduga yang dapat mengaburkan femahaman seseorang terhadap makna/maksut yang dituju. Sehingga penting bagi para anak muda untuk mengerti filsafat agar tidak gampang terprovokasi, dan mudah dimanfaatkan.    



[1] . http://www.aslaksana.com/2017/01/rombongan-pertama-ke-neraka.html
[2] . Fashlul Maqol: Fi Taqriri ma baina Syari’ah wal Hikmah min Ittisholi au Wujubin Nadr al Maqly wa Hududut Ta’wil ad-Din wal Mujtami’, hal. 94.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AGAMA DAN BUDAYA : DALAM TINJAUAN KEDEWASAAN UMAT ISLAM DI INDONESIA

Oleh : Mohammad Makhlad Belakangan ini warga Indonesia yang mayoritas beragama Islam sering kali mengalami kerancuan dalam membedakan antara agama dan budaya, antara ibadah dan muamalah, antara urusan agama dan urusan dunia, antara sunnah dan bid’ah, antara agama dan n egara. Walaupun secara deskriptif dan teoritis perbedaan dapat disimpulkan, namun dalam menyingkapi perbedaan tersebut menjadi permaslaahan yang kompleks. Jadi tak heran jika kita sering jumpai perselisihan diantara golongan, partai, maupun ormas-ormas Islam yang ada.  Antara Agama dan Budaya Secara umum dapat kita fahami bahwa Agama berasal dari wahyu Tuhan, sedangkan Budaya  berasal dari tradisi manusia, walaupun keduanya berbeda namun saling berhubungan. Agama mempengaruhi budaya, dan budaya mempengaruhi agama, Dr. M. Amin Nurdin, MA [1] menjelaskan bahwa agama dan budaya itu ibarat dua sisi dalam koin mata uang yang saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Senada dengan hal ini Kha...